| |
-
-
Tema : “Meraih Mimpi”
-
Rubrik : “Kandank Doank”
-
Oleh : dikDOANK
-
-
-
Bismillaahirrahmaanirrahiim…..
-
Sebelumnya saya
mengucapkan “Selamat…!” untuk peluncuran perdana Majalah “Nebtunus.”
Semoga di usia pertamanya ini kelak bisa menjadi ladang amal
untuk berbagi ilmu kepada siapa saja dalam lingkup yang lebih
komunal. Baik dalam dimensi transendental maupun horisontal. Tidak
lupa juga saya ingin mengucapkan terima kasih telah diberi
kepercayaan untuk mengisi rubrik “Kandank Doank.”
-
Ketika tanggal 19
Juni 2007 Redaksi Majalah Nebtunus mengirim fax kepada saya untuk
mengisi edisi perdananya dengan tema “Meraih Mimpi”, tiba-tiba
membawa ingatan saya kembali ketika saya masih kanak-kanak, entah
berapa banyak waktu itu orang yang bertanya kelak kalau saya sudah
besar ingin jadi apa? Jadi presiden, menteri, tentara, polisi,
profesor, dokter, insinyur, artis, pilot, guru, pemusik, kyai,
atau jadi apa saja tentunya saya akan menjawab sekenanya dengan
apa yang ada di pikiran saya waktu itu.
-
Cita-cita, harapan,
prioritas, atau kebanyakan orang biasa menyebutnya dengan “mimpi”
adalah sebuah kenyataan hidup yang (mau tidak mau) kita semua
pasti mengalaminya. Dan, tentunya dukungan dan pengaruh yang kuat
dari keluarga, pergaulan, pendidikan, agama, maupun kepekaan
sosio-kultural yang ada di sekitar kita mulai dari kita masih
anak-anak akan sangat mempengaruhi dalam proses kita meraih mimpi
itu.
-
Kenapa saya katakan
mulai anak-anak? Sebegitu pentingkah membentuk character
building dari kecil?
-
-
Hidup adalah Proses
-
-
“Hidup adalah
proses. Proses adalah perubahan. Dan perubahan itulah yang
menandakan kita hidup”. 13 suku kata dalam kalimat ini menjadi
filosofi Sekolah Alam “Kandank Jurank Doank” yang saya dirikan
sejak tahun 1993 bermarkas di Angkasa Pura. Hingga di usia yang ke
tiga tahun, sampai tahun 1995 waktu itu jumlah siswanya hanya
sembilan anak. Paling banyak empat belas anak. Pada tahun 1997
saya pindah ke Komplek Alvita, Sawah Baru, Ciputat dengan jumlah
siswa sekitar dua puluh lima anak. Kemudian dibuka lagi pada tahun
2005 dengan jumlah siswa lebih dari seratus anak. Walau dengan
jumlah siswa yang relatif sedikit, tapi tidak ada halangan bagi
saya untuk tetap saling belajar dan berproses, pun berjuang
mengembangkan dunia kreatifitas pada anak-anak. Karena bagi saya
anak-anak adalah penentu arah perjalanan bangsa. Mereka adalah
embrio, cikal-bakal, bibit-tunas, kemana mata anak panah bangsa
ini akan melesat sangat tergantung kepada mereka. Jadi kepada
merekalah kita menitipkan bangsa ini. Apakah akan menjadi bangsa
peniru, bangsa penjiplak atau bangsa pencipta.
-
Dan Alhamdulillah
karena kerja keras crew Komunitas Kreatifitas “Kandank Jurank
Doank”, dukungan masyarakat setempat, juga kerja sama dari
beberapa Komunitas, Lembaga dan Instansi, dan tentunya atas Izin
dan Ridlo Alloh, sekarang jumlah siswanya mencapai kurang lebih
1.500 anak. Dengan fasilitas
Lapank Doank 800 orang. Kampunk Doank 450 orang. Perpustakaan
Doank 70 orang. Kandank Jurank Doank 500 orang. Juga ada Panggung,
Musholla, Studio, Kolam ikan, Arena bermain, Kelas A dan Kelas B,
dan sekarang ini dalam Proses finishing pembangunan Kolesium yang
bisa menampung kurang lebih 600 orang.
-
Semua hal yang ada di
Sekolah Alam “Kandank Jurank Doank” sekarang ini adalah sebuah
proses perjalanan panjang yang bisa terwujud karena mimpi. Bukan
karena kebetulan atau malas-malasan. Apalagi sebuah pencapaian
secara instan. Seorang ilmuwan seperti Thomas Alfa Edisson
membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membuktikan keilmiahan dari
hasil penelitiannya. Seperti halnya gerak seorang pemain akrobatik
adalah sebuah gerak yang dilakukan berulang-ulang, beratus, beribu,
atau bahkan berjuta kali sampai benar-benar bisa menyatu dengan
tubuh pemain akrobatik tersebut.
-
Jadi, sesungguhnya orang yang
takut berproses dan mencari perubahan (baca : meraih mimpi)
menandakan kemiskinan hati dan jiwa. Sekolah Alam “Kandank Jurank
Doank” adalah barisan anak-anak dan orang-orang
yang mau belajar, dan ingin mengubah
Indonesia dengan ilmu. Dan kami hidup dengan ilmu itu.
Karena banyak cinta di sini. Cinta yang
membebaskan. Cinta yang tak mudah dibelokkan oleh kemiskinan dan
kebodohan
-
Jika ingin menemukan
rahasia yang baru, maka kita harus bisa menemukan rahasia
sebelumnya. Jika tidak merasakan nikmatnya sakit, maka kita tidak
akan bisa merasakan indahnya sembuh. Jika kita sudah bisa melihat
sesuatu yang terlihat, maka Alloh akan memperlihatkan kita sesuatu
hal yang tidak terlihat.
-
-
-
Filosofi Snow Ball
-
- Ni’matani
maghbunun fihima katsirum minannaasi ashihhatu wal faragh
- (H.R.
Bukhori).
- Artinya :
Ada 2 nikmat yang dirugikan, dihabiskan oleh kebanyakan manusia
yaitu : nikmat kesehatan dan nikmat waktu luang.
-
-
Barangkali filosofi “Snow
Ball” sangatlah tepat untuk digunakan sebagai analogi proses
hidup. Ketika bola salju menggelinding dari atas, maka
perlahan-lahan bola salju itu ketika turun ke bawah akan semakin
membesar dan akibat gerakan ataupun rotasi itu bisa menghasilkan
gumpalan bola salju yang sangat padat.
-
Semakin bertambah usia
seseorang, harusnya semakin lebih berisi dari segi pengalaman,
ilmu, juga kepekaan emosional dan spiritual. Seandainya semakin
bertambah usia seseorang tetapi semakin mengalami dekadensi moral
dan spiritual, barangkali orang itu bisa dikategorikan sebagai
salah satu manusia yang merugi atas 2 nikmat Alloh.
-
Ketika masih duduk di
bangku sekolah, saya dikenal sebagai siswa yang sangat badung,
urakan, gemar menyontek, dan suka bolos. Bahkan julukan badung ini
masih melekat ketika saya sudah menginjak remaja. Tapi perlu
dicatat, banyak anak yang menjadi dewasa lantaran bermain musik, bersosialisasi
dalam forum kerohanian, aktif di sebuah komunitas, rajin membaca,
ikut kegiatan olah raga, atau karena kegiatan yang berdampak
positif lainnya. Lantas, sebuah proses hidup banyak memberikan
warna perubahan dalam hidup saya. Hingga ahirnya saya menemukan
jawaban hidup dalam islam.
-
Ternyata jadi
seorang Muslim yang kaffah itu harus mampu
melakukan tiga hal. Pertama, melaksanakan semua perintah
Allah SWT. Kerjakan rukun Islam. Kalau orang sudah mengerjakan
rukun Islam, pasti orang itu akan menjadi kaya hati dan kaya harta.
Selanjutnya kalau sudah kaya, maka ia harus bangun masjid,
mushalla, rumah sakit, lembaga pendidikan. Pokoknya yang ada
hubungannya dengan kemaslahatan orang banyak. Kedua, sebisa
mungkin jauhi semua segala larangan-Nya. Ketiga, melakukan
ibadah sunnah yang akan menyulam ibadah-ibadah yang kurang.
-
Demikian pula dengan rajin
bersilaturrahim dan bersedekah. Karena dengan rajin
bersilaturrahim dan bersedekah, Insya Alloh kita akan terhindar
dari bencana, sakit, atau kehilangan. Yang tak kalah penting harta
kita pun akan berkah dan terus bertambah. Seperti filosofi
“Snow Ball” ketika
mengelinding turun ke bawah akan semakin membesar dan akibat
gerakan ataupun rotasi itu bisa menghasilkan gumpalan bola salju
yang sangat padat.
-
Itulah realita hidup! Di
mana hukum alam dan kekuasaan Tuhan begitu tertata dengan rapi dan
sempurna. Semua yang saya miliki (popularitas, harta, dan sekolah
alam “Kandank Jurank Doank”) ini
hanyalah titipan-Nya.
Tempat bernaung payung kasih tak terbeli. Sebuah anugerah yang
tiada terbayar yang harus kita jaga dan lestari. Dan suatu saat
kepada-Nya juga akan kembali.
-
Seandainya teman-teman
semua punya mimpi, pesan saya jangan ragu-ragu untuk mengejar apa
mimpi itu. Jangan sampai kalian terbangun sebelum mimpi itu bisa
kalian raih. Jangan sekali-kali bilang bahwa hidup ini biarkan
mengalir apa adanya. Tidak perlu muluk-muluk punya mimpi dan
target. Karena dalam falsafah Budhis, arti harfiah dari mengalir
itu sendiri ada 2. yaitu mengalir yang terarah. Dan mengalir yang
tidak terarah.
-
Jika semua orang berfikir
kalau matahari itu terbit dari timur dan terbenam di sebelah barat
karena takdir, maka di dunia ini tidak akan muncul ilmu
pengetahuan. Dunia ini akan dipenuhi orang-orang yang malas dan
bodoh. Orang hidup di dunia itu harus punya prinsip. Jika orang
hidup tidak punya prinsip namanya bukan orang hidup. Tapi orang
sakit!
-
Oleh karena itu,
persiapkan hati dan pikiran. Mantapkan sikap dan jangan takut
untuk bilang “TIDAK…!” pada segala hal yang mengarah pada
kebobrokan moral bangsa. Bukankah ketika masuk islam pertama kali
Alloh mengajari kita untuk berkata “TIDAK.” Laa ilaaha
illallooh (Tidak ada Tuhan selain Alloh).
-
Apakah kelak kita akan menjadi
bangsa peniru, bangsa penjiplak atau bangsa pencipta, semua
tergantung pada kalian semua. Terlebih lagi tergantung pada
anak-anak yang notabene adalah penentu arah perjalanan bangsa.
Mereka adalah embrio, cikal-bakal, bibit-tunas, kemana mata anak
panah bangsa ini akan melesat sangat tergantung kepada mereka.
Jadi kepada merekalah kita menitipkan mimpi bangsa ini.
-
Jika kita malas akan
tertindas. Jika kita bodoh akan dicemooh. Jika kita alpa akan
tergoda. Jika kita lemah akan dijajah. Jika kita ragu akan ditipu.
-
Tempora muntatur etnos
muntamur in illis. (Waktu berubah dan kita berubah dengan
waktu). Wallohu ‘Alam…
-
-
-
Sumber tulisan
: dikDOANK
-
Tukang ketik dan edit : Sujud
Kabisat
|
|