|
Ahirnya jadi seperti ini. Lihatlah, tidak ada yg mahal. Di dekat
bangunan ini sebenarnya ada rumah janda yang hidup sebatang kara.
Banyak orang bilang sebenarnya rumah janda itu mengganggu
pemandangan. Saya bilang kepada mereka kenapa orang kaya harus
menguasai.
Terus tiba-tiba orang tua itu
bilang kepada saya ; "Om Dik rumahnya mau saya jual". Saya tanya
kenapa? "Ibu mau pindah. Ibu sudah nggak kuat lagi". Lantas
saya bilang; "Ya sudah, Ibu rumahnya saya beli. Tapi rumah ini Ibu
angkat".
Ahirnya rumah itu dipreteli satu
per satu dan dipindah. Setelah tanah itu saya beli, 2 minggu
berikutnya org tua itu meninggal. Kalau soal kebetulan sudah
sering banget. Jadi menurut saya tidak ada istilah kebetulan.
Jika teman-teman melihat tempat
ini banyak kandang-kandang. Dan kenapa namanya “Kandank Jurank
Doank.”
Saya ingin katakan kepada
teman-teman : bahwa interpretasi manusia terhadap cinta salah.
Kalau cinta bagi dikDOANK adalah cinta yang membebaskan dalam arti
yang positif. Kalau orang cinta sama burung maka mereka akan beli,
dikandangin, dikasih makan, dikasih minum, dinikmati suaranya,
tapi orang itu lupa bertanya ; “hei burung kamu mau apa?” Jawab
burung itu pasti aku mau terbang! Aku mau bebas!
Harusnya sesuai dengan sabda
Rosulullah ; tanamlah sebiji maka dia tumbuh, tinggi batangnya,
lebat daunnya, terus kita merasa teduh di bawahnya.
Konsekuensi dari keteduhan itu adalah menyapu. Dan burung akan
datang dengan sendirinya tanpa kita beri makan.
Jadi apa yang kau risaukan kata
Rosulullah. Maka burung-burung itu akan makan setiap kali dia
lapar dan kalau sepanjang musim kemarau dia tinggal menukik di
lautan dan ikan-ikan itu banyak yang tergenang.
Kurang lebih seperti itu
penjelasan tentang filosofi "kandank Jurank Doank". Jika
teman-teman (yang beragama islam) ingin mengetahui lebih dalam
lagi soal filosofi "Jurank Doank" maka teman-teman bisa membaca
Al-Qur'an pada surat Toha.
|